Selasa, 17 Februari 2015

Kurang Dihargai di Indonesia, Pembuat Mobil Listrik Pilih Pulang ke Jepang


Menteri BUMN Dahlan Iskan bersama Ricky Elson dan mobil listrik Selo. Foto: Dok
Kamis, 10 April 2014 , 11:00:00
KARYA anak bangsa yang bisa membanggakan dunia, belum tentu mendapat tempat di negeri sendiri. Kekhawatiran Ricky Elson, si pembuat mobil listrik itu akhirnya terbukti. Ia pun tak ingin lama-lama kecewa. Daripada ilmunya sia-sia, kini si pemuda asli Padang ini memilih ingin kembali ke negeri Sakura.
Sekian lama Ricky menunggu izin mobil listrik yang dibuatnya bersama Menteri BUMN Dahlan Iskan. Berharap mobil listrik bernama Selo dan Gendhis itu, dapat menjadi inspirasi kelahiran mobil listrik buatan anak negeri. Namun apa daya, izin mobil listrik buatan pria kelahiran Padang 11 Januari 1980 itu tak kunjung keluar. Bahkan terkesan digantung oleh  Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek).
“Saya tak bisa lagi menahannya (untuk pulang ke Jepang). Dulu saya bermohon-mohon agar pemuda ini mau kembali ke Indonesia. Ilmunya soal mobil listrik sangat berguna. Tapi ternyata benar, ilmu itu tidak dihargai di negerinya sendiri. Dia masih muda, masa depannya masih panjang,”. Begitulah pernyataan kecewa yang diungkapkan Dahlan Iskan, perihal rencana Ricky kembali ke Jepang.
Dahlan yang ditemui wartawan di rumahnya di Surabaya, Rabu (9/4) pantas kecewa. Semangatnya melahirkan mobil masa depan, mobil listrik buatan anak negeri, ternyata tidak mendapat sambutan baik dari koleganya di Kemenristek. Padahal untuk membuat mobil listrik, Dahlan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Bahkan untuk memaksa Ricky mau kembali ke Indonesia, Dahlan sampai rela seluruh gajinya sebagai menteri diberikan pada Ricky.
“Ricky ini sudah 14 tahun di Jepang. Ia sudah memiliki hak paten internasional mobil listrik di sana. Saya merayunya habis-habisan agar mau kembali ke Indonesia. Dia sempat takut dengan resiko gajinya turun dan belum tentu ilmunya dihargai. Saya terus yakinkan dia dan memberikan seluruh gaji saya tiap bulan untuknya. Saya minta dia membangun mimpi mobil listrik buatan anak Indonesia, akhirnya dia mau dan kita buat Tucuxi, Selo  dan Gendhis,” kisah Dahlan mengenai awal perkenalannya dengan Ricky.
“Namun ternyata, kekhawatiran Ricky terjadi. Ternyata sambutan dalam negeri (soal mobil listrik) tidak baik. Tidak ada kepastian dan tidak ada ketentuan yang jelas. Saya harus minta maaf pada Ricky. Saya bayangkan dulu orang dari luar negeri kalau pulang bisa dimanfaatkan, ternyata tidak,” tambah Dahlan masih dengan nada kecewa.
Dahlan seolah kehabisan alasan untuk tetap menahan pemuda cerdas itu bertahan di Indonesia. Apalagi hingga saat ini, Kemenristek tak jua memberikan penjelasan, mengapa izin itu belum dikeluarkan. Padahal mobil-mobil listrik buatan Ricky, sudah pernah mejeng di acara KTT APEC di Bali.
“Kalau sampai satu atau dua bulan ini tidak ada kejelasan, saya harus izinkan dia (Ricky) pulang ke Jepang. Dia ini anak muda yang cerdas. Masa depannya masih panjang. Saya tidak mau menggantung masa depannya dengan bertahan di Indonesia,” kata Dahlan.
Izin yang Tak Kunjung Keluar
Mobil listrik Tucuxi, Selo dan Gendhis telah lama selesai. Mungkin ini bukan mobil listrik pertama yang dibuat di Indonesia. Namun inilah jajaran mobil listrik yang pertama kali dikerjakan seluruhnya oleh putra putri bangsa.
Untuk mendapatkan izin ketiga mobil listrik ini, pada awalnya Dahlan meminta surat izin mobil listrik kepada Kementerian Perhubungan, namun kementerian tersebut tidak bisa memberikan izin.
“Akhirnya Kemenhub dan Menristek bicara dan akhirnya urus izin di Menristek. Ini sedang kita urus,” kata Dahlan menjawab wartawan beberapa bulan lalu.
Namun seiring berlalunya waktu, izin dari Kemenristek tak kunjung ada kejelasan. Padahal Menristek Gusti Muhammad Hatta pernah memuji mobil listrik Selo saat melakukan ujicoba.
Berbagai carapun sudah ditempuh bekas Dirut PLN ini agar mengantongi izin menggunakan mobil bernama ‘Selo’ itu. Dari mengirim pesan singkat (SMS), telephone, hingga mengirimkan surat pribadi pada Kemenristek. Hanya saja, upayanya hingga kini tak berbuah manis.
“Saya sudah kirim surat pribadi, sebagai salah satu orang yang bisa kendarai mobil listrik itu untuk uji coba. Sampai sekarang enggak dibales. Saya udah SMS, telepon juga sudah. Jawabannya cuma ‘ya’ saja, tapi tidak dikasih izinnya,” papar Dahlan heran.
Menteri yang ogah pakai pengawalan ini juga bingung, beberapa bus listrik yang juga masih nangkring di Kemenristek masih kesulitan keluar izinnya. Padahal secara tak langsung, bus-bus listrik itu sudah melewati jarak jauh, dari Jakarta-Bandung-Yogjakarta-Jakarta.
“Kalau mobil listrik warna hijau waktu itu pernah saya kendarai sendiri sampai 1000 km. Maksud saya gitu, kalau saya pakai dulu terus baru dikritik apanya saja yang kurang, tapi ini mau dipakai enggak bisa,” sesal mantan Dirut PLN ini.
Perkenalan Ricky Elson dengan Dahlan
Saat kunjungannya ke Balikpapan beberapa waktu lalu, Kaltim Pos (Grup JPNN) sempat membuat laporan mengenai sosok Ricky Elson. Pemuda kelahiran tahun 1980 ini menempuh pendidikan sarjana hingga program master di Jepang. Ia mengambil ilmu spesifikasi Teknik Mesin di Polytechnic University of Japan. Dia selalu jadi lulusan terbaik hingga dilirik seorang profesor di sana yang merupakan perancang motor di Nidec Corporation. Ricky pun memenuhi tawaran itu.
Meski sempat kesulitan, Ricky berhasil beradaptasi. Bahkan, dia jadi andalan di perusahaan tersebut. Banyak pelajaran berharga didapatkan Ricky di sana. Terutama untuk menumbuhkan semangat kerja. Di perusahaan tersebut, kalimat motivasi jadi cambuk semangat karyawan. Yakni; segera kerjakan, pastikan kerjakan, dan kerjakan sampai selesai!
Selain itu, perusahaan-perusahaan di Jepang punya pengertian sendiri bagi setiap jenjang pendidikan. S-1 misalnya. Artinya jenjang ini sekadar tahu bagaimana memecahkan masalah. Sedangkan S-2, bagaimana menemukan masalah dan menyelesaikannya. Terakhir, S-3 adalah bisa membuat masalah dan memecahkannya sendiri.
Berbagai filosofi Negeri Samurai ini rupanya membentuk karakter Ricky menjadi orang yang produktif. Buktinya, enam tahun sejak bekerja di Nidec Corporation, dia berhasil jadi andalan. Sekitar 80 persen produk perusahaan ini merupakan karya sang Putra Petir ini.
Adapun Nidec Corporation bergerak di bidang elektronik, memproduksi elemen motor presisi alias mikromotor.
Selama 14 tahun di Jepang, Ricky telah menemukan belasan teknologi motor penggerak listrik yang sudah dipatenkan oleh pemerintah Jepang.
Namun demikian, di tengah kariernya yang sedang bagus, Ricky memilih kembali ke Indonesia. Dia turut membeberkan alasannya pada para mahasiswa kemarin. Pertemuan Ricky dengan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan, ternyata menjadi titik segalanya.
Bermula dari pertemuan sekitar 3 jam itu, Dahlan melobi Ricky untuk pulang dan berkarya di Tanah Air.
Bagi Ricky, pertemuan serupa bukan hal baru. Ada beberapa tokoh nasional yang sebelumnya menemui Ricky dan menawarkan untuk bekerja di Indonesia. Dia dijanjikan banyak hal yang barang tentu menggiurkan. Gaji tinggi mulai puluhan juta sampai ratusan juta rupiah, hingga diberi perusahaan, sudah biasa didengarnya. Tapi dia selalu menolak. Kenapa kali ini berubah?
“Yang saya tangkap, Pak Dahlan Iskan itu berbeda. Dia tak kasih janji-janji. Hanya berkata ‘Sudah cukup Anda kerja di luar negeri. Maukah ikut dengan saya? Kita bersama-sama berbuat untuk Indonesia’,” ucap Ricky menirukan percakapan dengan Dahlan Iskan saat itu.
“Beliau sangat paham. Dia minta saya pulang. Saya pun tak tahu kenapa tak menolak padahal yang lain berani menggaji hingga dua kali lipat dari yang saya terima kala itu,” sambungnya.
Dahlan yang mengetahui bahwa tenaga dan pikiran Ricky dihargai sangat tinggi, saat itu mengaku tak bisa memberikan hal serupa.
Namun supaya Ricky mau, Dahlan tanpa pusing-pusing langsung menawarkan gajinya sebulan sebagai menteri BUMN, untuk menjadi bayaran Ricky tiap bulan.
Berkat kesamaan visi membangun Indonesia, akhirnya kesepakatan tercapai. Apalagi, dia bertekad mau membalas jasa para guru yang membantunya bisa kuliah hingga ke Jepang. Ricky pun balik ke Indonesia dan memulai proyek mobil listrik Indonesia.
Selo dan Gendhis, mobil listrik karya Ricky yang sekarang jadi sorotan. Karya anak bangsa tak kalah dengan mobil sport buatan luar negeri. Padahal, durasi pengerjaannya hanya lima bulan. Selo memiliki kecepatan 250 kilometer per jam sedangkan Gendhis 180 kilometer per jam. “Karena mengejar untuk ditampilkan di APEC, motor dan controller-nya masih pakai buatan luar negeri,” sebutnya.
Menurut Ricky, langkah membuat mobil listrik saat ini sudah tepat. Beberapa waktu ke depan, dunia diprediksi beralih ke kendaraan listrik. Ini kesempatan buat Indonesia untuk memulai industrinya. Bahkan, bukan hanya Indonesia, seluruh negara saat ini turut berproduksi mobil listrik.
“Jika tidak dari sekarang, puluhan tahun lagi akan dipertanyakan apa produksi Indonesia,” ucap Ricky. “Indonesia butuh penggagas. Dari sini diharapkan lahir pengembang mobil listrik lain,” sambungnya.
Cerita di balik pemberian nama mobil listrik karya Ricky ini turut dibeberkan. Mulanya, mobil tersebut bakal dinamai Gundala. Nama itu diambil dari tokoh fiksi pahlawan super yang dijuluki Putra Petir. Tapi, Gundala terlanjur jadi nama komik. Hingga muncul nama Selo dari legenda Ki Ageng Selo yang dikenal dapat menangkap petir. Akhirnya nama inilah yang didaulat jadi nama mobil listrik Indonesia dengan model sedan sport.
“Kalau Gendhis, memang ingin dicari yang manis untuk mendampingi Selo. Jadi diambillah Gendhis yang artinya gula dari Bahasa Jawa,” imbuhnya.
Segera Pulang ke Jepang
Meski asli Indonesia, prestasi Ricky Elson justru mentereng di negeri Sakura. Di sana, ia sebenarnya telah menduduki jabatan penting. Yakni sebagai kepala Divisi penelitian dan pengembangan teknologi permanen magnet motor dan generator NIDEC Coorporation, Kyoto, Minamiku-kuzetonoshiro cho388, Jepang.
Ilmu anak Padang ini, sedikitnya telah menghasilkan sekitar 14 teori mengenai motor listrik dan telah pula dipatenkan oleh pemerintah Jepang. Ia telah kembali ke tanah air, namun kini ia berencana untuk segera pulang kembali ke Jepang. Melalui akun facebooknya, pembuat kincir angin terbaik di dunia untuk kelas 500 watt peak ini mengaku, perusahaan di Jepang tempatnya bekerja dulu, terus mengirimi tawaran untuknya kembali. Apalagi menurutnya, saat ini Indonesia belum bersahabat untuk hasil-hasil karyanya.Oh Indonesia… (afz/jpnn)

Dilema ‘Sang Putra Petir’ Pembuat Mobil Listrik

Kamis, 10 April 2014 , 13:55:00
JAKARTA–Nama Ricky Elson, menjadi sorotan publik Indonesia, saat putra asli Padang kelahiran tahun 1980 ini diperkenalkan sebagai pembuat mobil listrik, yang diinisiasi oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan. Jadi sorotan bukan hanya karena kecanggihan mobil listrik, tapi juga karena sosok Ricky yang masih sangat muda (33 tahun), namun telah memiliki prestasi mendunia.
Ia menghabiskan waktu selama 14 tahun di Jepang. Ia tidak hanya menjadi mahasiswa cerdas, tapi juga inspirator bagi penggiat teknologi di sana. Ia menjadi andalan di Nidec Corporation, sebuah perusahaan ternama di Jepang yang bergerak di bidang elektronik, memproduksi elemen motor presisi alias mikromotor.
Sekitar 80 persen produk perusahaan ini merupakan karya pemuda yang disebut Dahlan sebagai ‘sang Putra Petir’ ini. Bahkan sekitar 14 teori mengenai motor listrik, telah pula dipatenkan oleh pemerintah Jepang atas namanya.
Meski sukses di Jepang, namun rasa cintanya pada tanah air terus memanggil Ricky untuk pulang. Ia pun meninggalkan Jepang. Membuat berbagai riset dan berbagi ilmu dengan para juniornya. Tidak hanya menggarap mobil listrik bernama Tucuxi, Selo dan Gendhis bersama Dahlan Iskan, Ricky ‘blusukan’ ke pedalaman di Ciheras, Tasikmalaya, untuk membuat pembangkit listrik tenaga angin. Ia berhasil!
Penelitian di Ciheras, Tasikmalaya mengenai pembangkit listrik tenaga angin hasil rancangan Ricky ini, bahkan menjadi yang terbaik di dunia untuk kelas 500 watt peak. Namun kini setelah beberapa tahun meninggalkan Jepang, Ricky yang masih tetap digaji karena perusahaan tak rela kehilangan talentanya, justru kini sedang dihadapkan pada dilema.
“Saya sampai saat ini masih tercatat sebagai karyawan di sana. Jadi saya ditunggu mereka untuk pulang ke Jepang sebelum akhir April,” kata Ricky pada JPNN, Kamis (10/4).
Hingga saat ini, permintaan itu belum kunjung dijawab Ricky. Sebelumnya mengenai rencana kepulangannya ke Jepang ini, sempat ramai di berbagai media sosial.
Terutama facebook Ricky yang selalu diikuti oleh banyak pengagum sosok muda inspirator ini. Dalam salah satu statusnya di facebook, Ricky memang sempat menulis tentang tentang tawaran pulang ke Jepang.
“Galau tingkat tinggi, dari semalam dan barusan di Telp beberapa Pimpinan Pershn di Jpn, “udah cukup main2 di Indonesianya” diminta (diperintahkan) balik ke Jepang lagi , akhir April ini, kembali sebagai Engineer for R&D electric motor and applications lagi.ditutup dengan “Sangat banyak yg bisa anda kerjakan disini” …Heeemmmmh. Bagaimana dengan adik2ku di Ciheras ini? 2014/4/2″.
Begitulah tulisan Ricky yang sempat menjadi pertanyaan banyak pihak.
“Saya memang ditawari segera pulang. Tapi saya masih bersemangat dan sangat bersemangat untuk terus berkarya di Indonesia,” kata Ricky saat ditanyakan tentang rencananya ke depan.
Ricky memang banyak menyimpan harapan suatu ketika tekhnologi di tanah air bisa bersahabat dengan ilmu yang sudah diserapnya di negeri orang. Seperti yang dituangkannya dalam sebuah catatan, di laman facebooknya beberapa waktu lalu ini:
2 hari yg lalu saya baru “diberikan” ide oleh NYA,
Hari ini saya digalaukan utk mewujudkannya di Indonesia atau di Jepang,
  Sudah dengan keyakinan yg melewati pengujian bahwa
Kincir Angin yg sering saya posting dan telah saya kembangkan 3tahun ini,
Telah menjadi yg terbaik didunia, utk kelas 500 Watt peak.
Walau Generator dan Sistem Charging Controllernya masih
Harus saya produksi dengan bantuan perusahaan saya yg diJepang,
Baling2nya.. hari ini dan kemaren setelah beberapa kali prototipe dari teman2 pengrajin pinus,
Telah membuktikan hasil yg jauh dan jauh lebih bagus dari Air-40 dengan blade Fiber buatan
Perusahaan Southwest Amerika itu( 3kali lipat lebih),
Dengan harga yg 40% lebih murah dibandingan FOB mereka yg $850.
    Ya, terbaik didunia, namun masih saja…
Harga itu mahal karna saya harus mengimpor Generator dan Controller ya
Dari perusahaan saya bekerja…
Iyaaa saya tahu kita bisa membuatnya….
Karna keduanya saya yang meran cangnya….
Iyaaa.. saya sudah titipkan dan bocorkan teknologi ini pada sebuah institusi di negri ini,
Dan mereka sudah bisa mengembangkannya.. masih skala prototipe, masih butuh waktu…
    Namun rakyat tak bisa menawar waktu,
Mereka ingin segera…
Ingin segera dengan kincir Angin yg murah…
Harus jauh lebih murah dari PLT Surya…
Harus dengan Blade yang murah…
Buatan Indonesia yg berkualitas dan tidak murahan,
Harus dengan generator buatan indonesia yg murah dan berqualitas Jepang.
Harus dengan kontroller indonesia yg berkualitas jepang..
Agar kita bisa bikin segera turbin Angin yg lain,
Agar kita bisa segera mengembangkan pembangkit listrik skala mikro yg lain,
Hingga PLN kita mampu berbenah…
Agar kita bisa segera kembangkan mobil2 listrik yg lain…
Agar adik2yg ingin lomba mobil listrik tak lagi bingung mencari sisa motor listrik bekas ke Glodok..
Semuanya bisa dan pasti bisa insyaAllaah….
    Waktu tak mau menunggu saya ada dana riset dulu…
Waktu tak mau menunggu , adik2 engineer muda rela bertahan bersama dengan sekedar uang jajan spt masa kuliah..
Untuk segera bersama berinovasi mengembangkan semua harapan diatas…
Waktu tak mau menunggu….
    Kemarin inspirasi baru teknologi kincir Angin yg akan merubah
Paradigmapembangkit listrik skala mikro saya temukan…
    Maaf.. telah “dipertemukan dengan saya”…
Bernama “Hexagon-pillar windturbin” (sementara)
Yang akan jauh lebih murah dari segi Cost, dan
Mudah diwujudkan di Indonesia.
Saya harus segera mewujudkannya….disini
Segera…..Semoga Allaah memudahkan,
Dan Semoga teman2 engineer muda yg pernah mengembangkan VAWT…
Bersedia ikut bersama saya mewujudkan ini….
Saya butuh teman2 yg bisa simulasi CFD ( Fluent dll)
Desain diungkapkan di Ciheras atau melalui pertemuan lansung.
    Bismillaah.
Salam kebangkitan Renewable Energi
Demi kejayan Negri.
    2014/4/2
Ciheras.
Untuk mempertahankan Ricky agar tetap di Indonesia, melakukan penelitian dan pengembangan tekhnologi, Dahlan Iskan bahkan rela seluruh gajinya sebagai menteri BUMN diberikan pada pemuda cerdas ini. Namun bagi Ricky, itu bukan poin pentingnya. Ia mengaku sangat menikmati mentransfer ilmunya untuk kepentingan bangsa.
“Saya akan terus bersemangat, meski tekhnologi di kita belum sama dengan mereka ( di Jepang). Sebenarnya, kita jauh lebih mampu dan bisa mengalahkan tekhnologi mereka. Sayangnya kita tidak memiliki satu visi bersama untuk maju. Kita sering bersaing dengan sesama kita,” sesal Ricky yang mengaku harus berdiskusi lebih dulu dengan Dahlan Iskan, perihal tawaran untuk kembali ke Jepang.
Sementara Menteri BUMN Dahlan Iskan, mengaku tak bisa berbuat banyak untuk mempertahankan Ricky. Meskis sudah menghibahkan seluruh gajinya, Dahlan bisa mengakui kalau ilmu Ricky jauh lebih dihargai di negeri orang daripada di negerinya sendiri.
“Saya harus minta maaf pada Ricky. Dia ini anak muda dan masa depannya masih panjang. Dia ini betul-betul dibutuhkan oleh perusahaannya di Jepang. Dalam sebulan atau dua bulan ini, kalau mobil listrik tak ada kejelasan, saya harus merelakan dia untuk pulang ke Jepang,” kata Dahlan dengan nada kecewa.
- See more at: http://www.kopertis12.or.id/2014/04/11/kurang-dihargai-di-indonesia-pembuat-mobil-listrik-pilih-pulang-ke-jepang.html#sthash.oNMTnnzL.dpuf
Ricky Elson, pencipta mobil listrik 100% buatan Indonesia memutuskan kembali bekerja di Jepang. Pasalnya, impiannya untuk mengembangkan mobil listrik di Tanah Air tidak juga menunjukkan titik terang.
Hal ini membuat Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan merasa bersalah karena dirinyalah yang telah merayu Ricky untuk meninggalkan Jepang dan membantunya mengembangkan mobil listrik di Indonesia.
"Saya merasa bersalah. Salah besar. Terutama kepada anak muda yang hebat ini: Ricky Elson," ungkap Dahlan seperti dikutip dari bahan Manufacturing Hope, Senin (14/4/2014).
Menurut Dahlan, sebelum kembali ke Indonesia, Ricky  sudah hidup enak di Jepang.  Gaji besar dan karirnya melejit. Bahkan Ricky tercatat telah menemukan banyak inovasi kelas dunia. Selama bekerja di Jepang dia berhasil mematenkan 14 penemuan di lembaga paten di Jepang, terutama di bidang motor listrik.
"Anak yang begitu lulus SMA di Padang ini langsung sekolah di Jepang, menjadi anak emas di sana. Kesalahan saya adalah memintanya pulang ke Indonesia. Untuk mengabdi ke bangsa sendiri. Cukuplah mengabdi 14 tahun untuk bangsa Jepang," katanya.
Dahlan mengaku keinginnya untuk memanggil Ricky pulang dilatari oleh tingginya ketergantungan bangsa Indonesia terhadap bahan bakar minyak (BBM) impor. Salah satu solusi yang dilihat Dahlan adalah mengembangkan mobil listrik.
"Kalau kita terlambat mengembangkannya, kita akan terantuk lubang untuk kedua kalinya. Mobil-mobil listrik buatan asing akan membanjiri Indonesia dalam 15 tahun ke depan," papar mantan Direktur Utama PT PLN (Persero) ini. 
Maka Dahlan merayu Ricky untuk pulang. Memang dia semula menolak karena gajinya akan turun drastis. Apalagi Ricky sudah menikah sehingga dia harus bertanggungjawab pada keluarga.
"Tapi alasan penolakan terbesarnya adalah ini: apakah saya akan berarti? Apakah saya akan mendapatkan keleluasaan untuk mencipta? Apakah pemerintah indonesia akan memberikan dukungan? Apakah proyek itu benar-benar akan bisa jalan? Dan banyak pertanyaan yang sifatnya jauh dari urusan uang seperti itu."
Soal gaji yang akan turun, Dahlan memberikan solusi dengan menyerahkan seluruh gajinya selama menjadi Menteri BUMN ke Ricky. Namun, soal jaminan kelangsungan proyek, Dahlan mengaku sulit memberikan. Kecuali dia akan ikut all out. Termasuk membiayai seluruh pembuatan mobil-mobil listrik prototype.
Menurut Dahlan, Ricky memenuhi komitmennya dengan membuat mobil listrik 100% made in Indonesia. Dia juga berhasil membina tenaga-tenaga ahli di Pindad agar bisa membuat bagian yang paling sulit dari mobil listrik: motor listrik.
Tapi nasib mobil listrik kini kian tidak jelas karena aturannya tidak segera keluar. Padahal Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudahmemberikan dukungan yang maksimal untuk mobil listrik. Namun, nyatanya sulitnya bukan main.
Kini Ricky menganggur di Indonesia dan mulai merasa hidup sia-sia. Dia ingin kembali ke Jepang. "Dia tidak berani mengatakannya langsung kepada saya.  Bahkan salah seorang temannya di Jepang meledeknya dengan kalimat ini: sudah puaskah Anda hanya main-main di Indonesia?" tutur Dahlan.
Akhirnya, Ricky pun memutuskan kembali ke Jepang. Dahlan mengaku tidak dapat menahannya karena masa depannya tidak boleh dikorbankan.
Namun bagi Dahlan, Ricky sebenarnya sosok yang sangat ideal. Selama hampir dua tahun di Indonesia dia kerja amat keras dan sama sekali tidak menonjolkan diri sebagai seorang ahli. Dia mau membina dan mengajar secara telaten dan sistematis, seperti mempraktikkan dan menularkan ilmu yang dia peroleh selama di Jepang.
"Saya masih berharap, kalau perjuangan mobil listrik sudah jelas, kelak akan merayunya kembali untuk 

Hasil gambar untuk pembuat mobil listrik indonesia\        Hasil gambar untuk pembuat mobil listrik indonesia\     Hasil gambar untuk pembuat mobil listrik indonesia\

ELEMEN-ELEMEN INSTRUKSI MESIN

     Agar dapat dieksekusi, setiap instruksi harus berisi informasi yang diperlukan oleh CPU. Informasi itu dituangkan dalam elcmen-elemen instruksi:
·                     Operation Code/Kode Operasi: menspesifikasikan operasi yang akan dilakukan (misalnya, ADD). 
Operasi dispesifikasikan oleh kode biner, yang dikenal sebagai kode operasi, atau opcode.
·                     Source Operand Reference/Referensi Operand Sumber: operasi dapat mencakup satu atau lebih sumber, operand merupakan input bagi operasi.
·                     Result Operand Reference/Reference Operand Hasil: operasi dapat membuat hasil operasi.
·                     Next Instruction Reference/Reference Operand Selanjutnya: elemen ini memberitahu CPU posisi instruksi berikutnya yang harus diambil setelah menyelesaikan eksekusi suatu instruksi.

Sumber dan hasil operand dapat berada di salah satu dari ketiga daerah di bawah ini:

·                     Memori utama atau memori virtual: dengan referensi alamat berikutnya, maka alamat memori utama atau virtual harus diketahui.
·                     Register CPU: instruksi harus diberi nomor register yang dimaksud.
·                     Perangkal I/O: instruksi harus menspesifikasikan modul I/O yang diperlukan oleh operasi.




Jenis-jenis Instruksi

·                     Data Processing/Pengolahan Data: instruksi-instruksi aritmetika dan logika.
·                     Data Storage/Penyimpanan Data: instruksi-instruksi memori.
·                     Data Movement/Perpindahan Data: instruksi I/O.
·                     Control/Kontrol: instruksi pemeriksaan dan percabangan.

Instruksi aritmetika (arithmetic instruction) memiliki kemampuan untuk mengolah data numeric. Sedangkan instruksi logika (logic instruction) beroperasi pada bit-bit word sebagai bit, bukan sebagai bilangan. Operasi-operasi tersebut dilakukan terutama dilakukan untuk data di register CPU.

Instruksi-inslruksi memori diperlukan untuk memindah data yang terdapat di memori dan register.

Instruksi-instruksi I/O diperlukan untuk memindahkan program dan data kedalam memori dan mengembalikan hasil komputasi kepada pengguna.


Senin, 16 Februari 2015

Tutorial konfigurasi Voip dengan packet tracer
Kali ini saya akan memberikan tentang langkah – langkah konfigurasi voip ( voice over internet protokol) dengan menggunakan cisco packet tracker Ada 5 langkah yang harus kita lakukan, yaitu :
  • Mensetting switchport switch
  • Mengkonfigurasi interface secara static pada router
  • Mengkonfigurasi interface host secara auto (DHCP)
  • Mensetting voip pada router
  • Mensetting dial number untuk IP Phone
Sekarang kita memulai langkah langkahnya :
  1. Buka software cisco packet tracker. Saya menggunakan cisco packet tracker 5.3 setup.
  1. Lalu Buatlah sebuah router 2811
( pastikan Anda menggunakan router jenis ini, karena hanya router jenis ini yang menyediakan fungsi IP phone).
  1. Buatlah sebuah switch dengan menggunakan switch 2960 .
  1. Buatlah IP phone
(Dengan menggunakan 3 IP phone ).
  1. Selanjutnya Sambungkan IP phone Ke switch, dan juga dari switch ke router. Semuanya menggunakan kabel jenis straigh-trough.

  1. Lalu  colokkan power adapter pada masing – masing Ipphone
( caranya dengan meng klik Ipphon kemudian drag power ke portnya).













  • Kemudian kita akan masuk ke konfigurasi switchport, langkah – langkahnya adalah :

  1. Pertama, Kita klik pada gambar switch, lalu masuk ke tab CLI
(kita akan mengkonfigurasi dengan menggunakan command line ).
  1. Pada tab CLI ketikkan perintah “en”. Kemudian “config terminal”
(kita akan mulai untuk masuk ke konfigurasi ).
  1. Kemudian masukkan perintah “int range fa0/1-24”
( untuk memberikan semua port switch (port 1-24) kepada switchport voice).

  1. Kemudian ketikkan “switchport voice vlan 1”
(untuk membuat vlan id yang default berada di dalam vlan 1).
  1. Kemudian kita keluar dari config terminal. Caranya yaitu dengan menuliskan perintah “exit”.

  • Konfigurasi switchport telah selesai, selanjutnya kita harus melelukan konfigurari router. Berikut langkah – langkah untuk konfigurasi router :
  1. Di sini kita akan mengkonfigurasi dengan menggunakan command line, caranya yaitu Kita klik pada gambar router, lalu masuk ke tab CLI.
  1. Untuk memulai konfigurasi router. Pada tab CLI ketikkan perintah “en”. Kemudian “config terminal” .

  1. Lalu ketikkan “ip dhcp pool voice”.
  1. Lalu kita masukkan ip network & subnet mask pada konfigurasi dhcp, saya menggunakan network 192.168.1.0 dan subnet mask kelas C. Cara memasukkannya yaitu ketikkan “network 192.168.1.0 255.255.255.0”

  1. Lalu tentukan ip router pada dhcp. Caranya yaitu dengan memasukkan perintah “default-router 192.168.1.1”
  1. Kemudian kita tentukan berapa jumlah ip maksimal yang akan dilepaskan pada DHCP. Misalnya kita akan memberikan 150 ip yang dimulai dari 192.168.1.1 sampai 192.168.1.152, caranya kita harus mengetikkan perintah “option 150 ip 192.168.1.20”
  1. Kemudian keluar dari konfigurasi dhcp caranya yaitu dengan mengetikkan perintah “exit”.
  1. Supaya ip router yaitu 192.168.1.20 tidak ikut diberikan ke host pada DHCP maka kita harus memasukkan perintah “ip dhcp excluded-address 192.168.1.20”
  1. Sekarang kita akan mengkonfigurasi interface pada router, caranya yaitu dengan mengetikkan “int fastethernet 0/0”.
  1. Kemudian kita berikan ip pada router secara static, caranya yaitu    dengan mengetikkan “ip address 192.168.1.1 255.255.255.0”.
  1. Kemudian kita aktifkan konfigurasi ip tersebut, caranya yaitu dengan mengetikkan “no shutdown”.
  1. Lalu kita keluar dari config terminal, caranya dengan mengetikkan “exit”
  1. Kemudian masuk ke konfigurasi VoIP kita harus mengetikkan “telephony-service”
  1. Kemudian kita memberikan jumlah ipphone dan dial number maksimal, caranya yaitu dengan mengetikkan “max-ephones 3” dan “max-dn 3”
  1. Kemudian kita tentukan sumberip pada ip phone, caranya yaitu dengan mengetikkan “ip source-address 192.168.1.1 port 2000”
  1. Ketik “auto assign 4 to 6” kemudian “auto assign 1 to 5” dan “exit”
  • Selanjutnya kita akan mengkonfigurasi dial number untuk setiap ip phone
  1. Ketikkan “ephone-dn 1”. Kemudian tekan enter 2 kali

  1. Ketikkkan “number 1321151”
(kita memberikan dial number pada ip phone 1 yaitu 1321151)
  1. Ketikkan “ephone-dn 2”. Kemudian tekan enter 2 kali



  1. Ketikkan “number 1321152”
(kita memberikan dial number pada ip phone 2 yaitu 1321152)
  1. Ketikkan “ephone-dn 3”. Kemudian tekan enter 2 kali
  1. Ketikkan “number 1321153”
(kita memberikan dial number pada ip phone 3 yaitu 1321153)
Sekarang kita akan mengetest koneksi dengan dial number